Kabupaten Solok – Penanganan kasus dugaan penganiayaan brutal dan perusakan berat terhadap Vila Galagah yang berlokasi di kawasan Air Dingin, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, menuai sorotan tajam masyarakat. Peristiwa yang terjadi sejak Minggu, 2 November 2025 itu hingga kini belum juga berujung pada penetapan tersangka, meskipun laporan resmi, bukti video, hasil visum, serta keterangan para korban telah berada di tangan kepolisian.
Korban utama dalam insiden tersebut adalah pemilik vila, dr. M. Syukri, bersama sejumlah petugas keamanan dan pekerja vila. Salah satu korban, Muhammad Ilham, bahkan telah dirujuk untuk pemeriksaan medis lanjutan ke RSUP M. Djamil Padang akibat luka yang dideritanya.
Tak hanya penganiayaan fisik, para korban juga mengalami kerugian materiil yang besar. Sejumlah bangunan vila dilaporkan rusak parah, kaca-kaca dipecahkan, peralatan dikeluarkan dan dibakar, hingga tanaman bawang dan tanaman lain di sekitar vila dirusak habis.
“Mereka datang ramai-ramai, langsung merusak vila, memukuli orang dengan kayu dan besi. Barang-barang kami dikeluarkan lalu dibakar, tanaman juga dihancurkan. Ini sudah di luar batas,” ungkap dr. Syukri saat ditemui di RS M. Djamil Padang.
Berawal dari Perselisihan di Jalan Sempit
Berdasarkan keterangan korban, kejadian bermula saat rombongan dr. Syukri meninggalkan vila sekitar pukul 10.00 WIB. Di jalur jalan sempit yang menurun, kendaraan mereka berpapasan dengan truk bermuatan berat yang sedang menanjak. Kondisi jalan yang terbatas diperparah dengan keberadaan dua unit mobil pikap bermuatan bawang, sehingga kendaraan tidak dapat saling melintas.
Upaya komunikasi dilakukan oleh salah satu rekan dr. Syukri, seorang anggota TNI Angkatan Laut yang mengenakan pakaian sipil. Namun, respons dari sopir pikap justru memicu ketegangan.
“Kami sudah coba jelaskan baik-baik, tapi mereka malah membentak dan berkata seolah-olah kami yang salah karena berada di wilayah mereka,” tutur dr. Syukri.
Situasi semakin memanas ketika beberapa orang turun dari kendaraan dan melakukan pemukulan. Salah satu pihak yang terlibat disebut-sebut sebagai sosok berpengaruh di wilayah tersebut, dikenal sebagai “toke bawang” dengan inisial SM, yang diduga memiliki peran penting dalam eskalasi kekerasan hingga berujung pada penyerangan vila.
Penanganan Kasus Dipertanyakan
Meski laporan telah dibuat sejak hari kejadian dan korban telah menjalani pemeriksaan medis sesuai prosedur, hingga Januari 2026 proses hukum dinilai berjalan lambat. Hal ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait keseriusan aparat penegak hukum dalam menangani kasus tersebut.
Menanggapi hal itu, Kapolres Kabupaten Solok AKBP Agung Pranajaya, S.I.K., saat ditemui di ruang kerjanya di Polres Arosuka, Senin (26/01/2026), membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah melakukan gelar perkara untuk penetapan tersangka.
Namun, menurut Kapolres, dalam prosesnya sempat muncul upaya Restorative Justice (RJ) atau mediasi penal antara pelapor dan terlapor, yang hingga kini perkembangannya belum mendapatkan kejelasan.
“Kasus ini mendapat atensi dari pimpinan. Namun kami tidak bisa mengintervensi keinginan masing-masing pihak. Pernah ada upaya Restorative Justice, tetapi perkembangannya bisa ditanyakan langsung kepada penyidik,” ujar AKBP Agung.
Sementara itu, perwakilan tim penyidik Polres Solok, Riki, menjelaskan bahwa keterlambatan penanganan perkara disebabkan adanya penambahan saksi yang harus dipanggil dan diperiksa. Ia juga mengungkapkan bahwa gelar perkara untuk penetapan tersangka sebenarnya telah dilakukan pada 20 Desember 2025, namun belum menghasilkan keputusan final.
Desakan Publik
Hingga kini, masyarakat masih menanti kepastian hukum atas kasus tersebut. Publik mendesak Polres Solok untuk segera menuntaskan penyelidikan, menetapkan tersangka sesuai fakta hukum, serta memastikan proses penegakan hukum berjalan adil dan transparan tanpa pandang bulu.
Kasus ini dinilai sebagai ujian bagi aparat penegak hukum dalam menegakkan keadilan, terutama ketika dugaan keterlibatan pihak yang memiliki pengaruh ekonomi di daerah ikut mencuat ke permukaan.(***)
0 Komentar